Thursday, May 24, 2007

Bom itu bernama PJK

Bom Itu Bernama PJK
Oleh: Amrizal Muchtar

Sungguh ironis! Seluruh penduduk dunia terbelalak kaget ketika bom meledak di Legian, Bali, 12 Oktober 2002 lalu, dan menewaskan lebih dari seratus delapan puluh orang. Demikan pula halnya dengan serangan bom Amerika terhadap Irak yang mengorbankan ribuan nyawa tak berdosa. Akan tetapi, mereka tenang-tenang saja terhadap bom yang telah menewaskan jutaan orang di muka bumi yang mungkin saja juga berada di dalam tubuh mereka. Ya, bom itu adalah penyakit jantung koroner (PJK).
PJK memang pantas dijuluki sebagai bom, atau lebih tepatnya bom tubuh. Ini dikarenakan sifatnya yang progresif. Penyakit ini, jika tidak diterapi dengan baik, akan semakin gawat seiring dengan berjalannya waktu, sampai akhirnya menimbulkan sentakan yang berakhir dengan kematian mendadak.
PJK telah menjadi salah satu penyebab kematian terbanyak di beberapa negara. Di Amerika Serikat, PJK berada di peringkat pertama. Hampir 14 juta orang Amerika menderita penyakit jantung dan hampir 500.000 orang meninggal karenanya setiap tahun. Laporan Asosiasi Jantung Amerika Serikat di Eropa menyatakan bahwa PJK tetap menjadi penyebab utama kematian pada pria yang berusia 45 tahun ke atas dan pada wanita yang berusia di atas 55 tahun. Di Malaysia, grafik populasi penderita PJK menunjukkan peningkatan yang berarti. Antara tahun 1981 sampai 1989, jumlah penderita di Malaysia meningkat dari 15,3 per 100000 penduduk menjadi 37 per 100000 penduduk. Lalu bagaimana dengan Indonesia? Data khusus mengenai salah satu jenis penyakit jantung ini belum ada. Yang ada hanya data mengenai penyakit jantung secara umum yaitu menempati peringkat kedua dari penyebab kematian terbanyak di Indonesia dengan persentase 10,1 %.
Apa sebenarnya PJK itu? PJK adalah salah satu dari sekian banyak penyakit jantung. Bedanya dengan yang lain yaitu bahwa PJK menyerang arteri koroner, yakni arteri yang mengalirkan nutrisi untuk sel-sel jantung. Manifestasinya berupa penyempitan arteri tersebut sehingga sel-sel jantung kurang mendapat suplai darah yang mengandung nutrisi dan oksigen. Akibat kekurangan kedua zat di atas, dalam waktu singkat jantung akan rusak dan berakibat pada kematian.
Walaupun proses penyempitan arteri koroner ini bersifat sangat kompleks dan multifaktorial, namun ada beberapa hal yang sangat berpengaruh. Inilah yang dinamakan faktor-faktor resiko.
Ada dua jenis faktor resiko terjadinya penyempitan arteri koroner (FRK), yaitu yang dapat dicegah dan tidak dapat dicegah. FRK yang sudah jelas tidak dapat dicegah salah satunya yaitu jenis kelamin. Statistik menyebutkan bahwa pria jauh lebih banyak menderita dari pada wanita yang belum mengalami menopause. Di sini perlu ditekankan kata wanita belum menopause. Artinya setelah wanita tersebut menopause, maka kemungkinan mendapatkan PJK menjadi sama bahkan lebih besar daripada pria.
FRK lain yang tidak dapat dicegah yaitu umur dan riwayat keluarga penderita PJK. Makin tua umur seseorang, makin besar pula kemungkinannya menderita. Untuk pria dengan umur di atas 45 tahun dan wanita di atas 55 tahun, hendaklah lebih banyak memikirkan kemungkinan tersebut sehingga bisa mengambil langkah dini. Demikian pula dengan orang yang punya keluarga, terutama ayah, kakek, dan seterusnya ke atas, penderita PJK. Mereka sebaiknya mengantisipasi hal ini karena kemungkinannya menderita jauh lebih besar.
Selain yang tidak dapat dicegah, adapula FRK yang dapat dihindari. Yang tersering yaitu dislipidemi, tekanan darah tinggi, penyakit gula, rokok, dan kegemukan. Pada lima faktor inilah calon penderita bisa ikut andil dalam upaya pencegahan PJK ini. Ya, walaupun sebenarnya masih banyak faktor lain, tapi cukup dengan mengatasi FRK mayor di atas, maka kemungkinan besar penyakit ini akan menghindari kita.
Dislipidemi adalah ketidaknormalan kadar lemak dalam tubuh manusia. Menurut National Cholesterol Education Program (NCEP), bahaya mengancam jika kadar kolesterol total lebih dari 200 mg/dL, kadar LDL kolesterol lebih dari 130 mg/dL, HDL kurang dari 40 mg/dL, dan trigliserida lebih dari 150 mg/dL. Inilah yang terjadi pada penderita PJK. Kadar HDL mereka, yang sebenarnya berdampak positif bagi tubuh, mengalami penurunan, sedangkan kadar tiga lemak lain yang berbahaya meningkat tajam. Akibatnya, lemak-lemak berbahaya tersebut mengendap di pembuluh darah koroner dan menyebabkan kekakukan pembuluh darah. Lama-kelamaan lemak-lemak tadi semakin banyak berkumpul di koroner sehingga terjadilah penyempitan.
Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan FRK kedua yang dapat dicegah. Menurut Joint National Commitee, tekanan darah dikatakan tinggi jika berada di atas 140/90. Tekanan tersebut akan memberikan beban tekanan yang besar pada dinding pembuluh darah sehingga memperbesar kemungkinan terjangkitnya PJK.
FRK lainnya yaitu penyakit gula (DM), rokok, dan kegemukan. Kejadian PJK pada penderita gula lima kali lebih banyak dari yang bukan penderita. Untuk FRK rokok, kejadiannya 2-6 kali. Dan yang terakhir, kejadian untuk orang gemuk 2- 3 kali lebih banyak.
Adapun gejala yang dirasakan oleh penderita PJK tergantung dari stadium penyakitnya. Pada stadium dini, ketika penyempitan masih ringan, gejalanya berupa nyeri dada sebelah kiri. Nyeri ini kadang menjalar ke lengan kiri, rahang, dan punggung. Pada stadium yang lebih lanjut, yaitu penyempitan sedang, keluhannya menjadi sesak napas dan nyeri dada yang lebih berarti sehingga terjadi kelemahan otot jantung. Akhirnya pada stadium berat, otot-otot jantung akan berhenti berfungsi atau berkontraksi dan berakibat kematian mendadak.
Selain melihat gejala klinik, ada cara lain untuk mengetahui secara lebih pasti apakah seseorang menderita PJK. Menurut Prof Dr dr T Santoso SpPD KKV dari Sub-Bagian Kardiologi, Bagian Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM, kadar P-selectin, sICAM-1, IL-6, TNF-alfa, dan CRP dalam tubuh dapat digunakan sebagai penanda. Malahan, kadar zat di atas bisa menjadi prediktor bagi orang yang masih sehat untuk mengetahui apakah nantinya akan menderita penyakit jantung tersebut atau tidak.
Jika seseorang telah divonis oleh dokter menderita penyakit jantung ini, maka orang itu harus menjalani terapi sebaik-baiknya agar bisa sembuh. Kalau penyakitnya dibiarkan maka resiko terjadinya kematian sangat besar. Ada dua hal penting yang akan dilakukan dokter terhadap pasien yaitu terapi obat-obatan dan operasi. Untuk yang terakhir ini, ada dua macam yang paling terkenal, yaitu operasi pintas koroner dan balonisasi pembuluh darah arteri koroner. Prinsip operasi pintas koroner yaitu mengambil pembuluh darah dari bagian tubuh lain kemudian memasangnya secara paralel di daerah koroner untuk menggantikan fungsi koroner yang telah rusak atau tersumbat. Adapun prinsip dari operasi balonisasi arteri koroner yaitu memasukkan selang kecil melalui pembuluh darah arteri di paha atau lengan sampai ke muara pembuluh koroner di jantung. Kemudian melalui selang tadi dimasukkan selang yang lebih kecil lagi dengan balon di ujungnya. Pada koroner yang menyempit balon tadi dikembangkan sampai koroner tersebut normal kembali. Setelah itu, balon dikempiskan dan akhirnya dikeluarkan.
Perlu diketahui bahwa operasi-operasi di atas masih sangat beresiko dan biayanya sangat mahal, bisa mencapai puluhan bahkan ratusan juta rupiah. Karena itu jalan terbaik adalah antisipasi sedini mungkin sebelum terkena. Dengan kata lain, mencegah memang selalu lebih baik dari pada mengobati. Caranya mudah saja, yaitu dengan pola hidup sehat.
Pola hidup sehat mencakup pola makan sehat, menghindari faktor resiko yang bisa dicegah, dan aktivitas olahraga yang cukup. Dalam pola makan, janganlah terlalu banyak mengkonsumsi makanan-makanan yang bisa meningkatkan kadar kolesterol seperti makanan yang mengandung lemak tinggi, di antaranya kuning telur, daging, keju, susu murni, es krim, mentega, dan minyak kelapa.
Kemudian hindarilah faktor-faktor resiko yang tadi telah disebutkan. Dislipidemi harus dinormalkan, tekanan darah dinormalkan, penyakit gula harus diawasi dan diatasi, hindari rokok, dan terakhir lawan kegemukan. Yang tidak kalah penting dalam pencegahan PJK adalah berolahraga secara teratur karena olahraga terbukti berpengaruh baik terhadap tubuh dalam hal meningkatkan curahan darah dari jantung , merangsang pengembangan pembuluh darah, menurunkan kadar lemak, mengurangi kegemukan dan memberi perasaan puas dan bahagia.

Partner Link:
1. There are four diabetes-type

No comments: