Saturday, January 12, 2008

Siang hari di Sangatta


Originally uploaded by dramrizal
Sejak 4 Januari 2008 lalu, saya pindah ke Sangatta, salah satu kota kecil di Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur. Ini benar-benar mendadak. Saya ditelepon sehari sebelumnya, ditawari oleh Yusuf, teman seangkatan di fk unhas untuk bekerja di sana. Kebetulan di sana ada satu tempat kosong untuk posisi dokter umum. Sudah lama memang saya menginginkan kerja di Kalimantan, tapi tetap saja sulit memutuskan apa saya akan menerima tawaran mendadak itu atau tidak.
Jauh di lubuk, hatiku mengatakan ini kesempatan yang langka. Belum tentu ada kesempatan kedua. Lagian kapan lagi aku bisa menginjakkan kaki di Kalimantan kalau bukan sekarang. Akhirnya, walau terasa berat di lidah, aku mengiyakan saja tawaran itu. Aku sadar bahwa kita memang kadang harus akan dihadapkan pada pilihan-pilihan berat yang sering mengusik posisi nyaman kita.
Setelah berjanji sama teman di sana kalau aku akan mengikuti tawarannya, sebuah masalah segera menghadang. Pekerjaanku sebagai dokter umum di dua klinik di Jakarta harus aku tinggalkan. Tapi kalau aku pergi begitu saja, itu berarti aku akan merugikan klinik itu karena mereka tidak memiliki dokter lagi yang menjadi tulang punggung usaha mereka. Aku bukanlah orang yang tidak bertanggung jawab. Aku tidak pernah ingin menzalimi orang atau pihak lain. Akhirnya aku berusaha mencarikan dokter lain yang bisa menggantikan posisiku. Alhamdulillah, Allah mempermudah jalanku.Dalam sekali telepon, aku mendapatkan teman yang bisa mengganti posisiku.
Besoknya, hujan turun sangat lebat dari tadi malam di Depok, tempat tinggalku. Padahal rencananya aku akan diantar motor oleh kakak ke terminal Bogor untuk mengambil bus ke arah bandara. Aku memutuskan untuk nekat menerobos hujan saja. Mudah-mudahan tidak terlalu basah dengan jas hujan yang setengah robek, harapku. Akhirnya berhasil juga sampai di terminal. Satu pertolongan Tuhan datang lagi karena aku ternyata tidak perlu nunggu lama sampai bus berangkat. Di bis ber-AC aku jadi kedinginan karena ternyata jaket kain dan jeansku agak basah.
Setelah sekitar 1 jam, aku sampai juga di bandara. Tidak lama setelah sampai, aku menjadi sangat lapar. Saat itu baru jam 11-an. Aku agak takut kalau nanti sakit maagku kambuh lagi seperti sehari sebelumnya karena akan telat makan. Akhirnya aku mencari satu pojok untuk makan secara sembunyi-sembunyi. Malu juga sih sebenarnya. Saya belum pernah lihat ada orang dewasa makan di ruang tunggu bandara. Apalagi makanannya cuma nasi bungkus. Wong Deso amat! He he. Tapi biarlah. Malu urusan kedua.
Sekitar jam 12.35, pesawat Adam Air menerbangkanku dari Jakarta ke Balikpapan.Harga tiketnya cukup murah, Rp. 479.000,-. Perjalanan menempuh waktu 2 jam sebenarnya, tapi karena ada beda waktu satu jam, sampainya baru pada jam 3 sore lewat. Wah wah wah. Aku senang. Akhirnya aku bisa menginjak juga salah satu pulau terbesar di dunia ini. Aku berusaha menikmati langkah-langkah pertamaku. Ternyata kota Balikpapan panas juga di siang hari.
Dari Balikpapan aku diantar ke tempat sewa mobil yang menuju ke Sangatta. Sebelumnya kami sempat singgah makan dulu di satu rumah makan di Balikpapan. Asyik juga karena ditraktir oleh seorang agen perusahaan obat yang juga ikut menjemput. Lucu juga rasanya karena aku sempat bingung mau makan apa karena jenis makanan di sini berbeda dengan di makassar. Nama masakannya ikan bakar, tapi jenis ikannya berbeda dari tempat lain. Aku ditawari ikan trukulu. Bingung deh! Tapi uniknya mereka memintaku masuk ke bagian dalam untuk melihat secara langsung ikan-ikan yang tersedia. Masih segar-segar lho ikannya! Ikan trakulu akhirnya menjadi pilihanku.
Selepas itu, sekitar jam 8 malam, mobil CENDANA, tipe L300, membawaku menuju ke klinik sangatta. Sial juga aku saat itu karena mendapatkan kursi bernomor 1 yang terletak paling depan. Posisiku sangat tidak nyaman. Juga mengkhawatirkan karena jika hal buruk terjadi seperti tabrakan mobil, kakiku kemungkinan besar akan mengalami trauma berat atau kalau tidak, bisa terjepit. Alhamdulillah, hal buruk itu tidak terjadi. Setelah menempuh tujuh jam perjalanan, akhirnya aku tiba juga di klinik sangatta. Kliniknya sih tidak terlalu besar, pikirku waktu itu. Aku tiba jam 3 pagi.
Aku sangat kaget saat masuk ke toilet beberapa saat setelah tiba. Alamaak! Airnya kotor sekali. Warnanya coklat. Dan di permukaan air itu tampak ada benda melayang-layang. Seperti air got. Aku pindah ke toilet di sebelahnya ternyata sama saja. Oh Tuhan, pikirku, apakah benar aku akan tinggal di tempat seperti ini dalam dua bulan ini? Semoga ini hanyalah mimpi!
Rupanya di daerah situ airnya memang sering seperti itu. Ini air PAM lho. Aneh kan! Orang sudah bayar mahal-mahal tapi dapat air dengan kualitas rendah.
Tapi lama-kelamaan, ternyata aku menjadi betah dan suka tinggal di sini. Gaji lumayan, pekerjaan tidak terlalu berat tapi mulia karena menolong orang. Harga barang-barang tidak terlalu mahal. Fasilitas infrastuktur kota lengkap, seperti bank, kantor pos. Dan terakhir ada fasilitas internet 24 jam. Wow!

12 Januari 2008

Partner Link : Natural Diabetes

6 comments:

veeTa said...

saya juga terkaget kaget dok pas menginjakkan kaki pertama kali di sangatta...

veeTa said...

wah asyik tu ada koneksinya. ntar kalo aq dah move di sangatta boleh donk nebeng koneksinya :-)

Maleo said...

asik ya dok disangatta? saya sendiri hampir 4 tahun belum mudik kesitu. masih selesaikan studi di yogya. mungkin kalo ada waktu saya mau balik kampung
salam kenal

Anonymous said...

boleh jg pengalamannya mas, senang adventure lg. kira2 kt sehobi ni. sy jg senang ke t4 baru

dr. ary permana

plikwatulimo said...

Pak dokter yang baik... semoga sukses selalu. Oh ya, saya mohon informasi clinik atau rumah sakit di Sangatta, alamat dan dokternya siapaya? kalau berkenan saya juga di kasih nomor kontaknya ya? Saya sangat membutuhkan untuk persalinan saudara saya nanti. Sugianto (081 335 911 925?

Andry said...

Salam kenal Dok.
Mohon info dong dimana ya dokter spesialis kulit yang bagus di sangata.
Istri saya ingin berobat kulit, banyak jerawat diwajah dan punggungnya.

makasih

andry